ORBITAL DAN PERANANNYA DALAM IKATAN
KOVALEN
A. Sifat Gelombang
Seorang mahasiswa
Perancis, Louis De Broglie tingkat pasca sarjana, mengemukakan pendapat yang
revolusioner bahwa elektron mempunyai sifat gelombang dan juga sifat
partikel. Pendapat De Broglie mula-mula kurang dapat diterima, tetapi
pendapatnya merupakan benih yang kini tumbuh menjadi konsep mekanika kuantum
mengenai gerak elektron dan teori orbital molekul.
Mekanika kuantum adalah
subjek matematik. Untuk dapat mengerti mengenai ikatan kovalen, maka hanya
diperlukan hasil dari studi mekanika kuantum, daripada persamaan matematikanya
sendiri. Dengan pemikiran ini, muncul beberapa konsep dasar mengenai gerak
gelombang seperti yang dipertahankan dalam teori ikatan kovalen sampai saat ini.
Mula-mula akan dimulai
dengan beberapa gelombang diam yang sederhana (Gambar 1.1), yaitu jenis
gelombang yang dihasilkan bila orang memetik senar, seperti senar gitar, yang
kedua ujungnya mati. Jenis gelombang ini menunjukkan gerak hanya dalam satu
dimensi. Sebaliknya, gelombang diam yang disebabkan oleh pemukulan kepala drum
adalah berdimensi dua., dan sistem gelombang elektron adalah berdimensi tiga.
Tinggi gelombang diam adalah amplitudonya, yang dapat mengarah ke atas (+) atau
mengarah ke bawah (-) terhadap kedudukan istirahat dari senar. ( Tanda + atau –
dari amplitudo adalah tanda matematik, bukan muatan listrik). Kedudukan pada
gelombang yang amplitudonya nol disebut simpul, dan sesuai dengan kedudukan
pada senar gitar yang tak bergerak bila senar bergetar.
gambar 1.1
Dua
gelombang diam dapat sefase atau keluar fase yang satu terhadap yang lain.
Keadaan dimana gelombang hanya sebagian sefase juga mungkin terjadi. Istilah
ini dapat digambarkan oleh sistem dua gelombang pada dua senar identik yang
bergetar. Bila amplitudo positif dan negatif dari dua gelombang saling sesuai,
kedua gelombang tersebut sefase. Bila tanda matematik dari amplitudo saling
berlawanan, gelombang keluar fase.
Bila
dua gelombang yang sefase pada senar yang sama saling tumpang tindih, mereka
saling memperkuat. Perkuatan dinyatakan oleh penambahan fungsi matematik yang
sama tandanya yang menggambarkan gelombang. Sebaliknya, sepasang gelombang yang
tumpang tindih yang keluar fase, saling mengganggu atau berinterferensi. Proses
interferensi dinyatakan oleh penambahan dua fungsi matematik yang berlawanan
tanda. Inteferensi sempurna menghasilkan penghapusan satu gelombang oleh yang
lain. Tumpang tindih sebagian dari dua gelombang yang keluar fase manghasilkan
simpul. (Gambar 1.2)
Gambar 1.2
Meskipun
sistem gelombang elektron tiga dimensi lebih rumit daripada sistem senar satu
dimensi, namun prinsipnya sama. Masing-masing orbital atom dari atom
berkelakuan seperti fungsi gelombang dapat mempunyai amplitudo positif atau
negatif. Bila orbital mempunyai amplitudo positif dan negatif, maka orbital
mempunyai simpul. Satu orbital atom dapat bertumpang tindih dengan orbital atom
dari atom lain. Secara matematik, fungsi gelombang yang menggambarkan setiap
orbital yang tumpang tindih dijumlahkan bersama. Perhitungan ini dikenal
sebagai kombinasi linear dari orbital atom, atau teori (LCAO). Bila orbital
yang bertumpang tindih sefase, hasilnya adalah perkuatan dan suatu orbital
molekul ikatan. Disisi lain, antaraksi antara orbital atom yang keluar fase
menghasilkan inteferensi, yang menimbulkan simpul antara dua inti. Interferensi
menuju ke orbital molekul anti-ikatan.
B. Orbital Ikatan dan
Anti-ikatan
Bila
sepasang ikatan saling tumpang tindih, maka mereka dapat saling memperkuat atau
saling berinterferensi. Penambahan dari dua orbital atom 1s dari dua atom H
yang sefase menghasilkan perbuatan dan menghasilkan orbital molekul ikatan σ
dengan rapat elektron yang tinggi antara inti yang berikatan.
Bila
gelombang berlawanan fase, mereka saling mengganggu. Interferensi dari dua
orbital atom yang keluar fase dari dua atom hidrogen memberikan orbital molekul
dengan simpul antara inti. Dalam orbital molekul ini, penemuan elektron antara
inti sangat rendah. Karena itu, orbital molekul khas ini menimbulkan sistem
dimana kedua inti tak dilindungi oleh sepasang elektron, dan intinya saling
tolak menolak. Karena tolakan inti, sistem ini energinya lebih tinggi dari pada
sistem dua atom H yang mandiri. Orbital berenergi lebih tinggi ini adalah
orbital anti ikatan. Dalam hal ini, suatu orbital sigma bintang atau σ yang
berarti anti ikatan melindungi orbital σ atau H2. Energi molekul H2
dengan dua elektron dalam orbital ikatan σ lebih rendah yaitu sebesar 104
kkal/mol daripada energi gabungan dari dua atom hidrogen yang terpisah. Energi
molekul hidrogen dengan elektron dalam orbital anti-ikatan, sebaliknya adalah
lebih tinggi daripada energi dua atom hidrogen yang terpisah.
Orbital
molekul, seperti orbital atom dapat memegang nol elektron, satu elektron, atau
dua elektron yang berpasangan. Kedua elektron dalam molekul hidrogen pergi ke
orbital berenergi terendah yang tersedia, yait orbital ikatan σ.
Semua
orbital molekul ikatan mempunyai orbital anti-ikatan yang berhubungan
dengannya. Dalam setiap keadaan, molekul dengan elektron dalam orbital molekul
ikatan mempunyai energi yang lebih rendah daripada energi atom non-ikatan, dan
molekul dengan ikatan. Karena orbital anti-ikatan berenergi tinggi, elektron
tak umum ditemukan di situ.
Beberapa
hal penting yang umum mengenai orbital ikatan dan orbital anti-ikatan:
1.
Setiap orbital (molekul
atau atom) dapat memegang maksimum dua elektron, yang harus mempunyai spin
berlawanan.
2.
Jumlah orbital molekul
sama dengan jumlah orbital atom yang digunakan dalam pembentukannya. Untuk (H2,
dua orbital atom 1s menghasilkan dua orbital molekul).
3.
Dalam pengisian orbital
molekul dengan elektron, orbital dengan energi terendah diisi dahulu. Bila dua
orbital terdegenerasi (dari energi yang sama), masing-masing mendapat satu
elektron sebelum salah satu orbital energi terendah.
C. Orbital Hibrida Karbon
Karbon
mempunyai dua elektron dalam orbital 1s, karenanya orbital 1s merupakan orbital
terisi dan tidak digunakan untuk ikatan. Keempat elektron pada tingkat energi
keua dari karbon adalah elektron ikatan. Ada empat orbital atom pada tingkat
energi dua, satu orbital 2s, dann tiga rbital 2p. Namun demikian, karbon tidak
enggunakan keempat orbital dalam keadaan murninya untuk ikatan. Sebagai
gantinya, karbon bercampur atau berhibridasi, yaitu empat orbital atom tingkat
kedua menurut salah satu dari tiga cara untuk ikatan. Berikut tiga cara
tersebut:
1. Hibridasi sp3
Hibridisasi menjelaskan atom-atom yang berikatan dari
sudut pandang sebuah atom. Untuk sebuah karbon yang berkoordinasi secara
tetrahedal (seperti metana, CH4), maka karbon harus memiliki
orbital-orbital yang memiliki simetri yang tepat dengan 4 atom hidrogen.
Konfigurasi keadaan dasar karbon adalah 1s2 2s2 2px1 2py1.
Lebih lanjut lagi, orbital-orbital keadaan dasar tidak bisa digunakan untuk
berikatan dalam CH4. Walaupun eksitasi elektron 2s ke orbital 2p secara teori mengizinkan empat ikatan
dan sesuai dengan teori ikatan valensi (adalah benar untuk O2), hal
ini berarti akan ada beberapa ikatan CH4 yang memiliki energi ikat yang berbeda
oleh karena perbedaan aras tumpang tindih orbital. Gagasan ini telah dibuktikan
salah secara eksperimen, setiap hidrogen pada CH4 dapat dilepaskan dari karbon dengan
energi yang sama.
Proton yang membentuk inti
atom hidrogen akan menarik salah satu elektron valensi karbon. Hal ini
menyebabkan eksitasi, memindahkan elektron 2s ke orbital 2p. Hal ini
meningkatkan pengaruh inti atom terhadap elektron-elektron valensi dengan
meningkatkan potensial inti efektif.
Kombinasi
gaya-gaya ini membentuk fungsi-fungsi matematika yang baru yang dikenal sebagai
orbital hibrid. Dalam kasus atom karbon yang berikatan dengan empat hidrogen,
orbital 2s (orbital inti
hampir tidak pernah terlibat dalam ikatan) "bergabung" dengan tiga
orbital 2p membentuk hibrid sp3 (dibaca s-p-tiga).
Pada CH4, empat
orbital hibrid sp3 bertumpang tindih dengan orbital 1s hidrogen, menghasilkan empat ikatan sigma. Empat ikatan ini memiliki
panjang dan kuat ikat yang sama, sehingga sesuai dengan pengamatan.
Jika kita menrekombinasi
orbital-orbital ini dengan orbital-s 4
hidrogen (4 proton, H+) dan mengijinkan pemisahan maksimum antara 4
hidrogen (yakni tetrahedal), maka kita bisa melihat bahwa pada setiap orientasi
orbital-orbital p, sebuah
hidrogen tunggal akan bertumpang tindih sebesar 25% dengan orbital-s C dan 75% dengan tiga orbital-p C. HaL ini sama dengan persentase
relatif antara s dan p dari orbital hibrid sp3 (25% s dan 75% p).
2. Hibridisasi sp2
Senyawa karbon ataupun molekul
lainnya dapat dijelaskan seperti yang dijelaskan pada metana. Misalnya etilena (C2H4) yang memiliki ikatan rangkap dua di antara
karbon-karbonnya. Struktur Kekule metilena akan tampak seperti:
Ethene Lewis Structure. Each C bonded to two hydrogens and one
double bond between them.
Karbon akan melakukan
hibridisasi sp2 karena orbtial-orbital hibrid hanya
akan membentuk ikatan sigma dan satu ikatan pi seperti yang disyaratkan
untuk ikatan
rangkap dua di antara karbon-karbon. Ikatan hidrogen-karbon
memiliki panjang dan kuat ikat yang sama. Hal ini sesuai dengan data percobaan.
Dalam hibridisasi sp2, orbital 2s hanya bergabung dengan dua orbital 2p
membentuk
3 orbital sp2 dengan satu orbital p tersisa. Dalam
etilena, dua atom karbon membentuk sebuah ikatan sigma dengan bertumpang tindih
dengan dua orbital sp2karbon
lainnya dan setiap karbon membentuk dua ikatan kovalen dengan hidrogen dengan
tumpang tindih s-sp2 yang bersudut 120°. Ikatan pi antara
atom karbon tegak lurus dengan bidang molekul dan dibentuk oleh tumpang tindih
2p-2p (namun,
ikatan pi boleh terjadi maupun tidak).
Jumlah huruf p tidaklah seperlunya terbatas pada
bilangan bulat, yakni hibridisasi seperti sp2.5 juga dapat terjadi. Dalam kasus ini,
geometri orbital terdistorsi dari yang seharusnya. Sebagai contoh, seperti yang
dinyatakan dalam kaidah Bent, sebuah ikatan cenderung untuk memiliki huruf-p yang lebih banyak ketika ditujukan ke
substituen yang lebih elektronegatif.
3. Hibridisasi sp
Ikatan kimia dalam senyawa
seperti alkuna dengan ikatan rangkap tiga dijelaskan dengan hibridisasi sp.
Dalam model ini, orbital 2s hanya bergabung dengan satu orbital-p,
menghasilkan dua orbital sp dan menyisakan dua orbital p. Ikatan kimia dalam asetilena (etuna) terdiri dari tumpang tindih sp sp antara dua atom karbon membentuk ikatan sigma, dan dua ikatan pi tambahan yang dibentuk oleh tumpang tindih p-p. Setiap karbon juga
berikatan dengan hidrogen dengan tumpang tindih s-sp bersudut 180°.
Sumber: Fessenden Ralp J,
Joan S. Fessendden. 2005. Kimia Organik
Jilid 1 Edisi Ketiga. Terjemahan
A.H Pudjaatmaka. Erlangga: Jakarta






mohon izin comment , materi yang anda post sudah cukup bagus tapi ada kurang nya pada hibridasi sp yang terlalu singkat di jelaskan dan tidak ada contoh atau gambar yang ditampilkan, terimakasih.
BalasHapusTerimakasih sebelumnya atas masukan saudari Anisa Rahayu.Disini saya akan sedikit menambahkan contoh mengenai hibridisasi sp.
HapusNitrogen memiliki tiga elektron tak berpasangan pada orbital hibrid sp3, ketika satu elektron dalam orbital hibrida tersebut tereksitasi ke orbital p maka terbentuk hibrida baru, yaitu sp2. Elektron pada orbital p digunakan untuk membentuk ikatan pi. Jadi, atom nitrogen yang terhibridisasi sp2 memiliki satu ikatan pi yang digunakan untuk membentuk ikatan rangkap dua, mirip dengan molekul etena. Apabila elektron yang tereksitasi ke orbital p ada dua maka nitrogen memiliki kemampuan membentuk dua ikatan pi atau satu ikatan rangkap tiga (hibridisasi sp).
materi yang anda postkan sudah bagus, tetapi gambarnya juga harus lebih diperjelas lagi .
BalasHapusmateri yang anda berikan sudah cukup bagus , tapi saya ingin memberikan saran kepada anda penulis agar contoh yang anda berikan dijelaskan lebih lengkap agar lebih dimngerti
BalasHapusAssalamualaikum wr wb. saudari yasni materi yang anda berikan sudah sangat bagus, namun saya sedikit ingin menanyakan, mengapa pada Inteferensi sempurna terjadi penghapusan satu gelombang oleh yang lain? bagaimana mekanisme terjadinya pengahapusan gelombang tersebut? sekian dari saya wassalamualaikum wr wb.
BalasHapus